Terkunci, Selamanya

Terbiasa berteriak, berharap minimal ada sepasang telinga yang sadar

Kalau suara yang kali ini berbeda

Mulai lirih, aku takut semakin tidak terdengar

Cahayaku semakin terang, aku tahu

Senyumku pun begitu

Meskipun terlihat berbeda, tapi ada

Memang bukan lekukan yang biasanya dipamerkan

Entah karena rasa yang sebelumnya tidak terjamah

Atau sekadar berusaha saja

Tanpa sadar sudah terukir di tempat yang sama

Katanya, aku sudah membaik

Aku marah atas itu

Kenapa tidak ada satu pun yang setidaknya berkunjung barang sebentar?

Duduk bersamaku di sela keheningan yang sengaja dibuat karena tumpukan rasa sesal

Aku yakin, kamu pun akan ikut menuliskan ribuan tanya

Hanya untuk sekadar memastikan semua sudah berjalan dengan semestinya

 

Sebagai seorang yang tidak suka sendirian

Jauh dari rumah dan beberapa hati yang mungkin merasa kehilangan

Aku selalu lupa membawanya

Kompas, peta, atau apalah yang bisa kembali membawaku ke titik semua ini bermula

Jati diri, teman dekat, dan Ayah, misalnya

Aku berani bersumpah bahwa aku bingung harus memulai dari mana

Aku menyerah dengan peliknya kehidupan

Membaca narasi yang bahkan selalu berubah setiap satu kata lebih dekat dengan penutup kalimat

 

Alih-alih berhenti, aku terus... dan terus...

Melaju ke tempat yang tidak semua orang tahu

Muaknya, dengan kesadaran penuh

Tidak akan ada yang bisa menarikku keluar dari sini

Tidak ada yang sadar kalau semua yang ku sajikan adalah bentuk memohon pertolongan

"Lihat aku, tolong."

"Bantu aku, tolong."

Jadi, terhitung sejak selesainya tulisan ini

Aku tahu, kalimat itu akan selamanya terkunci dalam mulutku yang mulai nyaman membisu

 

Berlalu dan masih berlanjut

Aku takut

Tempat ini terlalu asing untuk memberiku segelas minuman hangat tiap pagi

Semua jadi terasa saling berlawanan

Maksudku, bagaimana bisa rasa takut datang satu paket dengan rasa aman, terlihat, dan dijaga

Terlebih, ada pertanyaan lancang yang terus-menerus timbul meminta untuk dilontarkan

Sebenarnya dijaga dari apa? Dari siapa?

 

Langkahku terhenti sejenak, melihat ke belakang

Kali ini, aku tahu sudah tidak ada lagi yang mengikutiku

"Udah, Rin, ayo pulang," kata Karin kecil

Tapi, tempat itu sudah tidak terlihat lagi

Bagaimana caraku kembali?

Lagi-lagi aku ingin mencaci maki 

Orang itu dan diriku sendiri

Mungkin benar, ini adalah sesuatu yang akan dibawa selamanya olehku

 

Tanganku bahkan sudah tidak gemetar 

Dan aku tidak lagi merasa diburu oleh kekekalan

Aku sudah terlalu jauh

Aku sedih, marah 

Selalu ada saja, hal baru yang ku tahu pasti akan membekas

Luka-luka itu mengingatkanku padamu

Mungkin memang ini bayarannya, kan, Pak?

Mungkin aku memang pantas untuk ini

Menjelajahi seisi bumi hanya untuk mencari jawaban atas arti sebuah kasih sayang, cinta

Dengan tangki yang kosong dan air mata yang sudah mengering

Kesana-kemari mengemis untuk itu

Sepertinya aku berhasil, Pak

Aku dapat

Tapi kenapa begini rasanya?


Hari-hari dilalui dengan keramaian

Suara gelak tawa yang ternyata mudah dipanggilnya

Sedikit saja, coba

Andai di luar selalu terang, mungkin besok mulutnya baru bisa diam

Sayang, semuanya berhenti ketika malam datang

Ketika sepasang mata di cermin sudah mulai membalas tatap

Kosong


Dadaku sesak

Leherku seperti dicekik, rasanya

Seolah tumpukan kata sudah berada di puncaknya

Aku ingin pulang

Aku ingin pulang

Aku ingin pulang

Aku ingin pulang... untuk memeluk siapapun yang ada

Diam saja, tanpa bisa bercerita

Yang jelas, aku sudah hilang

Dan aku hanya ingin pulang


Di malam-malam yang seperti itu

Ku genggam tangannya yang mungil, sembari mengusahakan hangat yang mungkin sudah hampir hilang

Perlahan ku raih pundak di tengah tubuhnya yang sedang meringkuk

Dengan perasaan yang campur baur, ku usap air mata di pipinya 

"Gapapa, Rin, gapapa..." bisikku

"Gapapa, kan?" ku pastikan sekali lagi

Tangisnya semakin menjadi-jadi

Aku salah

"Maaf, Rin, aku minta maaf," ku mohon sekali lagi

Terucaplah kata itu, entah sudah berapa banyak

Aku gagal 

Aku gagal

Aku gagal menjaga kamu




Rin... aku minta maaf

 

Comments

  1. I feel like wanna flying there, buying ice cream for us and walking around without conversation just feeling the calm breeze

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts