Tangan Kosong dan Bertelanjang
Rasanya seperti baru melihat dan merasakan dunia. Kakinya seolah sudah lama tidak menyentuh air. Antara segar dan dingin –ingin lama terendam atau ingin segera kering. Kalau dipikir-pikir, ternyata hidup sudah cukup lama. Hampir seperempat abad, tapi masih belajar jalan. Terkadang masih bingung mencari pegangan. Orang bilang, ini sudah memasuki usia matang. Tapi ia masih kesulitan mencari bagian dirinya yang memenuhi kriteria itu.
Belum ada –setidaknya ia merasa begitu. Matahari terik sedikit, bingung menumpang berteduh. Lupa membawa payung, tapi tidak mau basah ketika hujan turun. Kalau badai, langsung nangis di tempat –bingung mau lari kemana. Gelisah seolah memang dihadang dari berbagai arah. Mungkin sebagian terlihat, sebagian lainnya tidak. Itu yang membuat tanya. "Sebenarnya dia kenapa?"
Terlalu lemah dan menyedihkan, mungkin. Hatinya goyah meskipun sama sekali tidak ada yang menghentak. Pikirannya main kemana-mana tanpa perlu ada pancingan. Sangat melelahkan. Ia berharap sekali saja bisa tenang. Tetap saja, bingung harus bagaimana.
Apa karena tidak ada orang? atau malah karena terlalu banyak? Apa karena dia enggan pergi? atau justru berharap diminta untuk menetap? Salah juga. Mungkin, terlalu erat menggenggam semua yang datang karena takut dibiarkan sendiri?
Tidak juga. Sejauh ini berjalan dengan baik. Ia berani bertarung seorang diri. Mulutnya seolah malu meminta pertolongan, bahkan di saat ia tau, kalau kali ini mungkin tidak akan menang. Takut ada yang tahu, kalau dibalik baju zirahnya, ternyata hanya biru dan merah. Ia ingin terlihat baik-baik saja. Bukan seseorang bertubuh kecil dengan lebam dan luka di tubuhnya. "Aku bisa sendiri," ia terus mengulangi ucapan itu. Mungkin ia akan berhenti kalau tahu akan mati.
Banyak juga yang percaya. Pandangan yang tak terhitung jumlahnya, mengeluarkan penilaian yang sama. "Gila, mungkin dia kira bisa hidup sendirian," salah satu kepala menghujamnya seperti itu.
Ia dengar. Selalu dengar. Memang tak pandai menjaga nyawa dari suatu interaksi. Mulutnya bungkam dan responsnya lambat, tapi ia peka –tahu kalau ada bagian dirinya yang perlu diganti. Entah hilang atau rusak, yang jelas sudah tidak berfungsi.
Percaya atau tidak, ia sudah lama begitu. Berusaha tetap hidup walaupun tidak sempurna. Ia kejar semuanya, apapun yang membuat jantungnya terus berdetak. Tidak peduli yang menghidupkan atau yang mematikan. Sekadar untuk memastikan kalau eksistensinya nyata.
Mereka dibuat heran karena si tengil itu selalu berani pergi sendiri. "Ya... baguslah kalau dia bisa menikmati waktunya sendiri," katanya. Padahal di balik keberaniannya yang palsu itu, ia berharap ada yang datang sebagai teman. Sudah muak menghadapi semuanya sendirian sejak kecil.
Ternyata, bukan karena enggan atau malu. Setiap nyawa yang lewat, selalu hanya melihat. Ia sekarat tapi tidak ada yang mau mendekat. Suaranya habis, dibiarkannya semua itu berlalu. Semoga ada yang mau menolong. Bagitu terus hatinya mengulang. "Sialan, tidak ada juga yang dengar," sumpahnya.
Cukup dengan teriakan. Ia melanjutkan hidupnya dengan membawa tangki kosong ke penjuru dunia. Berharap ada satu-dua orang yang sadar, kalau tangki sebesar itu tidak pernah penuh cintanya. Seperti orang yang paling menyedihkan di dunia. Ia tau caranya menjadi bahagia, tapi jadi bodoh karena ingin ada yang melihat lukanya. Lelah saja berpura-pura. Berjalan sendiri dan tertawa, katanya selalu bahagia dan tidak punya masalah. Diperlihatkan sedikit lebamnya, butuh perhatian katanya. Persetan.
Kali ini ia berjalan dengan tangan kosong dan bertelanjang. Lihat saja semuanya —dari tawa, senyum, tangis, hingga semua bekas yang dari dulu seolah tidak pernah ada. Kali ini ia akan berjalan sendiri. Bukan lagi berkeliling untuk mengisi tangkinya yang kosong. Ia akan membuat dan mengisi sendiri kekosongan itu. Sampai penuh, tumpah –dan mereka semua akan kewalahan melihat mata yang berbinar dan jiwa yang benar-benar hidup. Saat itu, ia akan pastikan, cintanya bukan lagi buat mereka yang sengaja menutup mata.
semoga one fine day that ur cup will full fill, aku bisa melihatnya
ReplyDelete