Harus dewasa, katanya
Berjalan sambil melompat-lompat kecil. Aku berhasil memulai tahun dengan senyuman yang baru kembali ditemukan, setelah pernah hampir melepas semuanya. Saat itu, sama sekali tidak asing. Rasanya seperti pulang. Hangat, berwarna, dan ramai. Tipikal keramaian yang ingin aku jaga. Untuk di simpan baik-baik, barangkali nanti sepi lagi. Atau ramai, tapi yang aku benci.
Tidak ada yang salah, dunia sempat berjalan lebih cepat dari biasanya. Hari-hari terasa lebih menyenangkan. Mataku lebih berbinar karena akhirnya bisa menjadi lebih hidup. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku sadar kalau pipiku masih bisa memerah. Kepalaku masih bisa terhentak karena gelak tawa yang entah terpancing oleh apa. Lagi-lagi, aku menertawakan hal-hal yang tidak semua orang paham. Sulit membuatku berhenti tertawa, sampai-sampai membuat heran yang mendengarkan.
Tapi, sayang, pribadi yang baru saja aku temukan seperti akan beranjak pergi lagi. Sejak sosok yang paling ditakutkan datang beberapa hari lalu. Seperti biasanya. Secara tiba-tiba dan membawa segudang cerita lama. Benakku ramai lagi. Aku takut sendiri. Mulai membuang waktu di luar lagi. Di mana saja, asal tidak sendirian, asal tidak pulang. Sialan, aku kembali ke lingkaran ini lagi.
Kali itu, ia datang hanya untuk mengingatkan, kalau bulan Februari, usianya akan menginjak lima puluh enam tahun. Artinya, anak gadisnya yang 'tersayang' juga akan menjadi satu tahun lebih dewasa. Ya, ia mengingatku kalau ada yang berkaitan dengan dia. Boleh tiga, enam bulan, atau satu tahun sekali. Minimal hadir untuk memastikan bahwa aku masih benar-benar mudah untuk dihancurkan.
Panggilan itu dimulai dengan salam, ucapan bahagia, dan doa, karena pikirnya, ia menelepon tepat di hari ulang tahunku. Salah. Ini tahun ke dua puluh lima dan ia tidak pernah tepat sasaran. Satu jam panggilan itu membuat dadaku sesak. Kepalaku panas seolah akan meledak. Suara yang berasal dari bagian bumi yang lain itu masih saja suka membuka luka lama. Entah sudah berapa kata berlalu. Air mataku jatuh saat ia seketika menodong "kenapa dulu, kamu sebagai anak tidak pernah marah ketika kami saling ingin berpisah?"
Gila. Jadi, aku yang salah.
Mulutnya terus berserapah tanpa memberi jeda. Banyak sekali yang dituangkan. Banyak juga yang dituntut. Ia marah karena putrinya tidak bisa berdamai dengan keadaan. Katanya, aku sudah hidup seperempat abad, harusnya bisa lebih dewasa. Rasanya seperti ingin memukul sesuatu. Maksudku, yang benar saja? Dibiarkan tumbuh sendiri. Jatuh dan bangun sendiri. Dipaksa untuk melihat ia hidup baik-baik saja, di tempat yang 'katanya' rumah —yang ternyata tidak memerlukan aku sebagai penghuninya.
Sudah terlanjur terbiasa mencari sampai lelah. Bersedih sampai bosan. Aku selalu diminta segera bisa jalan sendiri. Dan aku bisa. Aku harus bagaimana lagi supaya diakui dewasa? Persetan saja, lah. Aku sudah berusaha terlalu keras untuk orang yang tidak pernah hadir sepenuhnya.
Pergi saja. Lanjutkan. Uang dan waktumu selalu tidak ada untukku, kan? Baik, nikmati saja tempat-tempat hiburan itu. Pergilah ke manapun mobil mahal itu membawamu. Pulanglah ke rumah yang selalu kamu banggakan. Aku sudah baik saja tanpamu, jadi, berikan bawaanmu kepada mereka yang haus akan itu.
Aku benci karena ternyata semuanya masih sama. Nada bicaranya, caranya bercerita, dan isak tangisnya yang masih terdengar palsu. Sepuluh tahun sudah berlalu. Tapi aku masih terluka dengan alasan yang sama, berdarah karena dipaksa berjalan jauh tanpa alas kaki. Tubuhku rasanya tegang, kaku karena kelelahan berdiri tegap. Sendiri.
Aku marah. Kalau bisa bersuara, mungkin seisi dunia akan menutup telinga saking bisingnya.
Aku bingung mencari cara biar kuat. Kalau bersandar, berarti lemah, katanya. Kata Kakakku, seharusnya aku bisa belajar dari semua yang terjadi. "Sudah tahu jauh dari rumah, kenapa masih rapuh saja?"
Hehe, iya juga, ya.
Maaf, aku cuma ingin istirahat sejenak. Bersandar sebentar, Mas. Terkadang aku terlalu lelah untuk bersikap baik saja.
Katamu, masalah seperti ini akan terbawa selamanya. Sampai menikah. Sampai berkeluarga. Lalu, bagaimana? Aku harus apa, Mas? Aku ingin lepas. Entahlah, ya. Setelah semua ini, aku takut. Dan ini bukan tentang pantas atau tidak, tapi, mungkin tidak akan sampai di titik itu —menikah.
Rin pernah denger soal fase dalam hidup nggak ? Fase paling akhir kata orang adalah penerimaan. Tapi buat aku setelah itu ada fase lain yaitu mati rasa. Apa lebih baik mati rasa dari pada sakit sesak ?
ReplyDeletesesakmu sampai sini rin, nyetrumm
Aku lagi ngebayangin tenangnya setelah mati rasa, karena aku sendiri lebih tenang setelah mati rasa.
“ hal itu “ mungkin akan datang lagi dan lagi suatu saat nanti ( seperti kata masmu ), menabur garam di luka yang tak akan pernah sembuh itu dan rasanya akan perih lagi.
Bukannya bagus kalau mati rasa ?
Walaupun tidak sepenuhnya
Allah udah nyiptain pasangan mu
Aku juga kok ga yakin bakal sampe tahap itu, tapi “apa kata Allah deh,, biar diatur se jos mungkin”