Tidak di Tubuh Orang yang Sama

 

Dulu, aku ingin segera menjadi dewasa. Kalau bisa, ketika matahari terbit besok, aku sudah menjadi seseorang yang bisa memahami hal-hal rumit yang sedang terjadi. Aku tidak merasa sedih, apalagi hampa. Kepalaku hanya penuh dengan tanda tanya. Ada apa? Kenapa? Siapa?

Waktu itu, hidupku masih penuh dengan hal-hal yang membahagiakan. Hal-hal yang membuat semangatku terus membara. Terlalu membara, sampai-sampai… padamnya satu titik di hidupku… sama sekali tidak mempengaruhiku. Indahnya hidup dengan kepolosan. Aku kira, jika aku bisa menaklukkan satu hal, aku akan bisa menggenggam semuanya –semua mimpi dan semua orang. Aku kira, keberhasilanku di kala itu bisa membuat semuanya bertahan. Ternyata tidak. Ternyata hanya aku yang bertahan. Aku bahagia karena juara. Aku bahagia karena membawa pulang piala. Seiring waktu, piala memang bertambah banyak, tapi kenapa rasa kemenangan itu tidak pantas di bawa pulang? Aku tahu, seisi rumah bangga padaku. Aku juga tahu, kalau ada sesuatu yang hilang di situ.

Sosok itu hilang. Aku masih bimbang, sebenarnya mauku apa? Hatiku dimana? Rasanya seperti dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Aku masih ingin keliling kota di malam hari. Meskipun hanya dua bulan sekali, yang penting sempat makan di tempat itu lagi. Aku masih ingin melakukan banyak hal lain –yang aku bahkan tidak bisa ingat lagi. Kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan ketika dia sudah mulai jarang pulang. Bekerja, katanya. Aku masih ingin punya banyak cerita dengan dia di dalamnya. Tapi, sekarang, yang aku punya hanya memori singkat tentang kisah persahabatan kita, ketika aku masih belum bisa banyak hal. Aku akan selalu ingat, rumah di ujung jalan –yang setiap minggu pagi dia antarkan aku untuk melihat seekor tupai berlarian di atas pohon di depan rumah itu. Aku akan selalu ingat, kebiasaannya mengajakku bersepeda ketika hujan turun dengan derasnya. Tidak akan pernah lupa, karena selalu aku duduk di kemudi sepeda. Aku suka melihat ekspresi wajahnya yang selalu antusias mengajakku bermain.

Banyak waktu berlalu. Aku kira, semua akan kembali baik saja. Kata siapa? Jika ada yang bilang, kalau sesuatu akan membaik di suatu hari nanti –itu bohong. Ternyata, yang paling menyakitkan bukanlah ketika sesuatu terjadi dan kamu tidak tahu alasannya. Tapi, ketika kamu mulai bisa menarik benang merah dari setiap pertanda yang kamu tangkap seiring bertumbuh. Seperti ditampar berkali-kali –sakit, perih, yang lama-lama jadi mati rasa.

Aku tidak tahu apa yang sedang ingin aku sampaikan saat ini. Tapi, aku sudah benar-benar menjadi orang dewasa sekarang. Seharusnya aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kenapa aku masih diam saja? Mengungkapkan perasaan saja tidak bisa. Belum bicara sudah takut ditindas. Baru buka mulut, suara sudah bergetar. Bicara sudah mulai lancar, air mata malah turun. Aku tidak mengerti. Jawaban apa yang aku mau?  Kalau dia tidak membenarkan, apakah aku akan percaya? Sebaliknya. Kalau dia membenarkan, apakah aku siap untuk patah kesekian kalinya? Aku lelah. Terus saja aku berlari dari kenyataan. Setiap saat dicari, setiap saat itu juga aku sembunyi. Kenapa? Padahal itu bapak. Sahabat yang sudah lama dirindukan. Dia sudah lama hilang dan aku tidak lagi bisa menemukannya. Tidak di tubuh orang yang sama.

Comments

Popular Posts