Sekarang, Takutnya Udah Beda
Bertahun-tahun dilewati dengan saling berjauhan. Aku adalah seorang teman kecil yang selalu menyambutmu sepulang kerja. Polos, antusias, dan suka tidak sabaran. Pengin cepat main di bawah hujan. Pengin cepat jalan-jalan. Pengin cepat pergi kemana saja bedua. Pengin cepat semuanya, kecuali berpisah.
Aku adalah seorang teman kecil yang tidak pernah kamu panggil namanya, sebab kamu punya panggilan sayang khusus untukku. Nama panggilan yang mudah diingat. Cukup manis untuk membuatku berjingkat, berlari ke arahmu, memeluk dan membalas senyummu.
Aku adalah seorang teman kecil yang berhasil dibuat heran, setiap kali kamu membuatku tertawa. Lelucon murahan, sampai 'tarianmu' yang khas itu. Teman kecil itu heran, tentang bagaimana dia bisa mendapatkan teman yang selalu membuatnya tertawa.
Aku adalah seorang teman kecil yang merasa hari-hari berlalu begitu lambat tanpa ada dirimu. Rasanya ingin kamu cepat pulang, supaya aku cepat bisa cepat bilang, kalau selama kamu tidak ada, aku sudah bisa naik sepeda roda dua. Pengin bilang, kalau aku sudah bisa matematika.
Semuanya pengin aku sampaikan. Semua yang sederhana, semua yang aku berhasil lakukan sendiri ketika kamu tidak ada.
Dulu, aku hanya takut ketika harus belajar bersamamu. Aku juga hanya takut dibiarkan sendiri ketika menangis, tapi aku tidak takut untuk bercerita denganmu.
Sekarang, aku merasa semua ceritaku tidak lagi menarik perhatian itu. Cerita-cerita itu menjadi kosong, kamu terima hanya untuk diputarkan lagi. Dikembalikan padaku dengan ceritamu. Cerita-cerita yang aku benci. Cerita-cerita yang tidak pernah berubah tentang karamnya kapalmu —yang bahkan bukan urusanku.
Selalu tentang buruknya ratumu, padahal, sebagian besar waktuku adalah menjadi seorang putri di istananya. Aku kira, sudah cukup untuk mempertanyakan kemana perginya sang raja. Cukup untuk bisa berandai bahwa kita bisa memiliki waktu dan momen yang sama, seperti ketika aku masih menjadi teman kecilmu.
____________________________
Bukannya hebat, bukan juga kuat. Aku cuma ingin cepat lupa. Aku ingin cepat lupa kalau kamu sudah punya kerajaan sendiri. Aku ingin cepat lupa kalau kita pernah tidak baik-baik saja.
Percuma saja, ternyata. Seolah paling terluka, kamu lupa kalau ada yang ikut berdarah ketika semuanya pecah. Seolah paling kuat, kamu lupa kalau aku juga berusaha keras untuk menutup luka yang sama.
Comments
Post a Comment