Yang Seharusnya Dibicarakan

Ampun, tidak kuat rasanya. Entah aku yang mudah tersinggung atau memang mereka yang sedang berada di atas awan. Padahal sedang dikerumuni dengan orang-orang terdekat, tapi rasanya asing. Seolah salah, kalau lebih memilih diam ketimbang menyebutkan semua hal yang berhasil aku raih. Seolah salah, kalau aku tidak mau mereka tahu tentang sesuatu yang sedang aku usakan. Banyak pandangan menuju ke arahku, cukup mengintimidasi, kalau disuarakan mungkin seperti "ceritakan sekarang atau mati." 
Menurutnya, diam berarti tidak bernilai. Tidak bercerita berarti hidupnya tidak berjalan. Memilih untuk mendengarkan berarti butuh bantuan. Banyak bicara berarti sudah berhasil. Sejak kapan?


Waktu memang tidak bisa dipercepat, tapi saat itu aku sepenuhnya berharap waktu bisa berjalan lebih cepat, aku bisa segera pergi, dan kita segera berpisah. Muak, rasanya. Sekian jam bertemu, hanya berbicara tentang profesi, pendapatan, dan 'investasi anak'. Ribuan detik terbuang hanya karena ingin mendengar orang asing bilang, "enak ya, duitnya dimana-mana".


Tidak ada yang ingin tahu sedikitpun tentang hidupmu yang berjalan semudah membalikkan telapak tangan dan uangmu yang selalu mengalir. Seharusnya, kita bicara tentang sesuatu yang kita suka, sesuatu yang kita benci, dan banyak hal lain yang jauh lebih menarik untuk menghidupkan suasana.


Tidak ada yang perduli dengan kamu yang hebat menyelamatkan banyak jiwa di sana-sini. Bukan tentang anak siapa yang paling banyak gaji bulanannya. Bukan juga tentang siapa yang menganggur dan paling bermasalah. Persetan dengan semuanya. Persetan dengan pertemuan-pertemuan yang selalu menjadi ajang nominasi. Aku harap kita tidak pernah berada di garis waktu yang sama lagi, sampai mati.

Comments

Popular Posts