Berisik, Aku Ingin Pergi

Sudah lama, kenapa belum juga mati rasa?

Butuh hampir sepuluh menit jeda untuk lanjut menuangkan perasaan ini –setelah menuliskan pertanyaan itu. Sempat bertanya-tanya tentang alasannya, tapi, sepertinya aku sekadar terserang dengan satu kalimat tanya itu. Sesak, sakit seolah terbungkam. Mau bersuara, malah keluar air mata. Entahlah, lelah saja. Sudah dijalani bertahun-tahun, tapi belum saja berlalu. Berat karena terbawa kemana-mana. Perih karena tidak pernah benar-benar sembuh. Setengah mati, rasanya. Setiap saat selalu menghadapi masalah yang itu-itu saja. Lelah sendirian, lelah diperebutkan. Ingin cepat mengakhiri dilema tentang jalan pulang.

Menangis, lagi. Marah tapi tidak bisa berteriak. Kecewa tapi tidak tahu mau bilang apa. Ingin menyerah, tapi masih ada yang sayang –kalau memang ada.

Sudah lama, kenapa belum juga mati rasa?

Berkali-kali aku pertanyakan. Tidak sekalipun menemukan jawaban. Merasa terserang setiap terngiang pertanyaan itu, mungkin karena sekali terbesit, langsung teringat semuanya. Badai datang lagi. Kacau. Berantakan tapi tidak ada yang sadar. Muak dengan kesan dari setiap orang yang mengerti tentang kisahku.

“Seberat itu, ya, ternyata. Kamu keren karena selama ini enggak kelihatan lagi banyak beban.”

Harus bangga karena berhasil menampakkan yang baik-baik saja, atau harus sedih karena terlanjur pintar berlagak seolah tidak ada yang salah. Yang mana?

Sudah lama, agaknya sudah cukup. Tidak perlu dijejali dengan hal yang sama. Sudah terlalu sulit ketika menghadapinya sebagai anak kecil. Sudah dewasa, ternyata sama saja. Seharusnya sudah lebih kuat, tapi kenapa belum juga?

Aku harus kuat, katanya. Setiap malam –masih dengan topik yang sama– terlewati dengan air mata yang terbuang begitu saja. Memang sia-sia, tapi aku bisa apa? Sudah bertahun-tahun berlalu. Bukannya bisa diperbaiki, malah aku yang bingung menyelamatkan diri. Cuma dua suara, tapi tidak keruan. Dua suara yang meminta untuk dibenarkan. Berisik. Mereka pikir hidupku hanya permainan.

Semua orang bilang, aku beruntung. Beruntung karena tumbuh menjadi orang baik-baik. Beruntung karena bisa bertahan sejauh ini. Beruntung karena masih punya rumah. Sedangkan aku tidak tahu, bagian mana dariku yang bisa diuntungkan. Tampang, prestasi, ekonomi, relasi –apa lagi? Itu adalah beberapa yang diungkit ketika orang-orang bebicara tentang atau dengan aku. Selalu saja dibilang beruntung. Ya… mungkin memang aku yang naif dan tidak bersyukur. Tapi, sungguh, buat apa semua itu kalau tidak punya rumah.

Ingin sewaktu-waktu bercerita untuk sekadar mengurangi beban. Lagi-lagi, semua orang juga punya cerita. Tidak ada yang bisa selalu ada. Lagi-lagi, ingin lebih ringan saja masih harus menunggu orang lain. Sedih juga ternyata, kalau tahu, tidak semua orang punya waktu –tidak semua orang membutuhkan aku.

Terlalu berat, tidak kuat. Rasanya bisa lega ketika sedang bersama dengan orang tertentu saja, walaupun sementara. Tenang dan hangat, aku suka. Sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Bising dan dingin, aku benci. Sesuatu yang ada di sini. Dekat, tapi tidak saling mendekap. Ingin pergi saja. Kabur, meninggalkan hingar-bingar yang tiada hentinya merasuki pikiranku. Ingin tenang. Ingin ada yang mendekap. Aku lebih suka di sana. Ramai tapi hidup, tidak seperti di sini, ramai tapi mati. Pernah ke sana dan sekarang jadi sadar, tidak selamanya adaptasi di tempat baru sulit untuk dilakukan, sebab memang ada beberapa tempat yang jauh lebih menenangkan dibanding rumah. Waktu berjalan cepat di sana, menyenangkan. Penuh emosi nyata yang semua manusia punya. Aku enggak pengin pulang.

Aku enggak pengin pulang.

Aku enggak pengin pulang.

Aku suka di sana.

Cih, menyedihkan. Mau bahagia saja masih harus ikut orang lain…

Aku ingin bahagia, sendiri –bukan sendirian. Bahagia yang tidak bergantung pada apa dan siapa. Ingin bahagia karena kehidupan yang aku punya.

Tapi, ya, masih, aku suka di sana.

Comments

Popular Posts